Toko “Pengeksploitasi” Energi
Toko “Pengeksploitasi” Energi
Toko “Pengeksploitasi” Energi
Toko “Pengeksploitasi” Energi

Tergelitik dengan tema “Green Building”, saya teringat pada toko-toko franchise yang pernah saya kunjungi. Terlihat betapa terangnya toko tersebut jika dilihat dari jarak pandang yang jauh. Bukan saja karena kilau lampu yang terpasang hampir di setiap sudut, melainkan semua energi yang digunakan. Apalagi ditambah dengan pelayanan 24 jam non stop. Hal-hal tersebut semakin membuat saya penasaran dan berniat menanyakan langsung kepada pekerja-pekerja yang ada di situ.

Toko pertama yang saya kunjungi terletak di daerah Jalan Colombo. Saya memutuskan untuk mengajak teman. Menemani lebih tepatnya. Saya sampai di toko tersebut pada malam hari. Jelas terlihat terang akibat sinar lampu yang menyala memenuhi area toko. Sudah banyak pengunjung yang berdatangan, entah hanya untuk mengobrol ataupun mengerjakan tugas. Saya dan teman saya masuk ke dalam dan memilih tempat kosong untuk diduduki. Saya mencoba menghitung berapa banyak lampu yang sedang menyala. Kira-kira lebih dari 40 buah. Entah lampu-lampu tersebut menggunakan produk hemat energi atau tidak. Selanjutnya saya mencoba melihat deretan lemari pendingin yang ada di toko waralaba tersebut. Modus awal dengan membeli minuman sambil sesekali mengeluarkan HP untuk memfoto. Berhasil mendapatkan gambar, saya bermaksud untuk menanyakan langsung kepada pekerja yang ada. Seraya ditemani teman, saya berjalan menuju pekerja yang sedang merapikan botol minuman. Bermaksud interview untuk mendapatkan informasi lanjut dan tepat, namun pekerja tersebut melemparkannya kepada salahsatu rekannya. Kami diajak menuju kasir. Sesampainya di kasir, bukan jawaban yang saya terima. Hanya sebuah kertas bertuliskan nomor call center. Pekerja kasir meminta saya untuk menanyakan sendiri karena ia tidak tahu tentang semua energi yang ada. Meskipun hanya soal jumlah AC dan lampu. Pekerja tidak mau menjawab.

Karena memperoleh nomor call center, esoknya saya mencoba untuk menghubungi. Saya mengirim pesan singkat yang berisi beberapa pertanyaan seputar energi pada toko-toko dalam perusahaannya. Namun balasan tak kunjung datang. Mungkin pending, pikir saya waktu itu. Maka dari itu, saya mengirim ulang pesan tersebut ke nomor saya dan adik saya. Sekedar mengecek, pesan tersebut bisa terkirim atau tidak. Ternyata pesan tersebut bisa terkirim. Kira-kira, mengapa call center tidak mau menjawab pesan saya ya?

Hari berikutnya saya memutuskan untuk berkunjung sendiri. Toko kedua berada di daerah Jalan Bhayangkara. Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah, saya menggunakan sepeda agar lebih santai. Modus yang saya digunakan tetap sama, membeli minuman. Saya masuk ke toko dan langsung menuju lemari pendingin. Di bagian suhu tertera suhu dibawah 20°C. Saya lupa berapatepat suhunya. Pada deretan makanan ringan, saya melihat pekerja yang sedang melayani pengunjung mencari barang. Setelah selesai dengan pembeli tersebut, saya mendekat dan bertanya. Pekerja yang saya temui kali ini tidak setertutup toko pertama. Saat saya bertanyapun, pekerja itu berusaha mencari tahu jawabannya. Hasil yang saya dapat meliputi:
a. Jumlah lampu 40 buah. AC 4 buah. Kulkas 3 buah.
b. Tidak tahu pasti energi yang digunakan merupakan produk hemat energi atau bukan.
c. Listrik menyala 24 jam.
d. Kulkas tiap jam 12.00 mati karena dipasanag timer (tidak tahu alasannya).
e. Sampah-sampah ditampung di depan toko.
f. Pernah mencapai angka Rp8.000.000/bulan hanya untuk konsumsi listrik.

Pada hari yang sama, saya melanjutkan pergi ke toko ketiga di daerah Jalan KHA Dahlan. Saya melihat perbedaan dengan toko-toko sebelumnya. Bentuk lampunya bohlam dan lebih sedikit. Namun jumlah kulkas dan AC-nya tidak jauh berbeda. Pekerja yang saya tanya sama, tidak tahu mengenai produk yang digunakan. Alasannya karena bagian tersebut bukan tanggung jawabnya.

Berkunjung ke tiga toko franchise memberi saya sebuah kesimpulan. Seruan “Green Building” belum sepenuhnya menjadi perhatian oleh masyarakat Indonesia. Saat ini yang dipikirkan hanya toko yang dapat memberi fasilitas canggih dan modern. Begitu pula pegawai yang bekerja di tempat itu. Tak peduli lagi dengan energi yang dihabiskan toko 24 non stop. Gaji hanya satu-satunya prioritas yang harus dipenuhi. Pemborosan semakin marak terjadi untuk mencari keuntungan/benefit sebanyak-banyaknya. Padahal salahsatu unsur “Green Building” adalah hemat energi. Fenomena yang telah saya paparkan di atas tentu menjadi bahan renungan bagi kita. Apakah anda sudah memanfaatkan energi yang ada di rumah atau tempat usaha dengan baik guna memenuhi syarat bangunan hijau?

#Jogjahijau #Konsumsi Hijau #Don’t (just) Recycle!Think First

Ditulis oleh :  Terisia Belawati Sugiarto