Sepetak Sekotak
Sepetak Sekotak
Sepetak Sekotak
Sepetak Sekotak

Penerapan Green Building bukanlah perkara gampang, terlebih diarea perkotaan. Sepetak sekotak, itulah kebanyakan bangunan-bangunan yang berdiri di perkotaan, terutama untuk rumah hunian. Sepetak sekotak maksudnya adalah luas tanah sama dengan luas bangunan, tidak ada sisa tanah untuk bercocok tanam, ataupun sekedar untuk peresapan air, bahkan kadang teras pun tiada. Parah-parahnya kalau punya mobil pun garasi diluar alias di jalan.

Alih-alih menerapkan green building dengan langit-langit rumah yang tinggi, lahwong kebanyakan pilih yang pendek sudah gitu pakai eternit. Mau bikin celah-celah untuk ventilasi udara? Lahwong temboknya aja berhimpitan dengan tembok tetangga, bahkan ada yang setembok berdua, dimana mau naruh jendela?

Mungkin karena terbatasnya lahan yang dipunyai dan ingin lebih ekonomis sehingga orang cinderung memilih untuk mendirikan bangunan dengan konsep sepetak sekotak dan mengabaikan konsep green building.

Padahal konsep green building lebih menguntungkan baik penghuninya ataupun untuk alam kedepannya. Misalnya, bangunan dengan langit-langit atap yang tinggi, cukup celah untuk ventilasi udara, atau ruang masuk cahaya akan membuat suasana menjadi tak terasa panas dan terang. Dengan demikian akan lebih hemat energi karena tidak lagi butuh AC atau kipas angin, serta tak perlu menyalakan lampu kala siang hari, otomatis hemat bayar pajak juga kan?

Trik lain agar suasana rumah tidak panas adalah hindari membangun rumah menghadap arah matahari, dengan kata lain arahkan rumah ke selatan atau utara. Lalu kurangi pemakian kaca dibagian-bagian yang terkena sinar matahari. Hindari penggunaan atap seng atau asbes. Tanam tanaman disekitar rumah, kalau tidak ada lagi lahan untuk bercocok tanam bagaimana? Ya bisa bercocok tanam secara hidroponik. Atau setidaknya menggunakan pot-pot kecil atau memanfaatkan botol-botol bekas untuk bercocok tanam.

Sayangnya membangun dengan konsep sepetak sekotak ini gak hanya diberlakukan masyarakat yang merasa kurang lahan untuk mendirikan rumah, justru para pembisnis dibidang properti kebanyakan tak peduli dengan penerapan green building yang dianggap mahal dan tak akan memberikan banyak keuntungan baginya. Gak hanya perumahan sih, di Jogja misalnya, sekarang ini banyak sekali hotel baru, bahkan ruko-ruko baru yang bangunannya ya gitu deh, sepetak sekotak. Parahnya lagi, yang di desa ikut-ikutan, banyak sekarang lahan pertanian yang disulap menjadi perumahan sepetak sekotak dan itu laku keras.

Bangunan yang kian bertambah terutama di perkotaan tentu akan mempengaruhi tata ruang kota, kalau semua tanah diatasnya ditanam bangunan entah perumahan atau gedung-gedung bertingkat, suatu ketika kota itu akan menjadi tempat yang panas, sumpek dan tak layak dihuni.

Tentu perlu peraturan tegas dari pemerintah terutama untuk pendirian gedung-gedung bertingkat agar menerapkan konsep green building. Selain aturan pemerintah, juga dibutuhkan kesadaran semua pihak, terutama pelaku bisnis bidang proterti, lebih dari itu yang paling dasar adalah kesadaran masyarakat termasuk kita. Konsep green building pada dasarnya adalah untuk menghemat energi listrik, penggunaan air yang bisa didaur ulang dan pemanfaatan limbah sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan. Selain untuk mengurangi pemanasan global, green building juga termasuk upaya untuk mencegah krisis energi, krisis air bersih, banjir dan berkurangnya ruang terbuka hijau. [DHA]

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recyle, think first”

Ditulis oleh : Widhawati