Membenahi Gagal Paham Soal Green Building
Membenahi Gagal Paham Soal Green Building
Membenahi Gagal Paham Soal Green Building
Membenahi Gagal Paham Soal Green Building

Secara sporadis dalam pemberitaan media massa, tentu kita pernah mendengar tentang “Green Building”. Dua kata ini terserak di antara sejumlah istilah lain seperti “Global Warming”, “Rumah Kaca”, “Gerakan Hijau”, “Ramah Lingkungan”, “Hemat Energi”, dan sejenisnya. Namun sajian yang serba sepintas dan kurang informatif bagi orang awam atau orang yang belum peduli akan hal ini, membuat kita sering kali gagal paham soal yang satu ini.

Semula saya menduga “Green Building” itu identik dengan gedung yang didominasi oleh cat berwarna hijau. Dasar pemikirannya sederhana, pada saat duduk dibangku SMP guru saya pernah menyampaikan bahwa memandang yang hijau-hijau itu bagus untuk kesehatan mata. Ketika saya lebih tahu, saya mengira “Green Building” itu identik dengan bangunan yang memiliki area taman yang luas, tanamannya banyak dan rimbun, sudut-sudut bangunan dipenuhi oleh pot-pot yang ditanami tanaman hias, atap gedung ditanami rumput serta perdu yang menjulur turun.

Ternyata, pemahaman saya itu tidak tepat. Seperti “Rumah Kaca”, “Green Building” (GB) tidak bisa diartikan secara harfiah menjadi “Gedung (Berwarna) Hijau”. Saya menemukan pengertian bahwa GB itu diartikan sebagai konstruksi hijau, arsitektur ramah lingkungan, atau bangunan berkelanjutan. GB mengarah pada struktur dan penggunaan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut, mulai dari pemilihan tempat sampai desain, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi, dan peruntukan.

Dalam bahasa lebih operasional, GB berarti bangunan yang menggunakan energi, air, dan sumber daya lain secara efisien; melindungi kesehatan penghuni dan meningkatkan produktivitas karyawan; serta mengurangi limbah, polusi, dan degradasi lingkungan. Dalam bahasa sederhana, GB adalah sebuah konsep tentang merencanakan suatu bangunan yang ramah terhadap lingkungan.

Isu ini memang relatif baru, mulai dikenal pada 1990-an. World Green Building Council (WGBC) berdiri pada 2002 dan Green Building Council di kawasan Asia Pasifik pada umumnya eksis di kisaran 2005-2008. Setelah lebih dari satu dekade, WGBC baru memperluas misinya dengan mengeluarkan “Global Project” untuk meningkatkan aspek kesehatan dan produktivitas pengguna di dalam bangunan hijau.

Respons Terhadap Pemanasan Global

Konsep GB merupakan salah satu bentuk respons masyarakat dunia akan perubahan iklim. Isu ini mengkampanyekan bahwa perbaikan perilaku dan teknologi terhadap sebuah bangunan berkontribusi bagi pengurangan pemanasan global. Namun urusan ini tidak semata urusan level dunia. Gencarnya pembangunan di tanah air turut meningkatkan kontribusi CO2 secara signifikan. Konsekuensinya, turut memperburuk kondisi lingkungan di sekitar kita, termasuk kualitas udara dalam ruang yang sangat memengaruhi kesehatan. Padahal faktanya, hampir 90% hidup manusia dihabiskan di dalam ruangan.

“Kualitas udara dalam ruang yang buruk dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan kesehatan pada manusia yang biasa disebut dengan sick building syndrom (SBS) seperti sakit kepala, pusing, batuk, sesak napas, bersin, pilek, iritasi mata, pegal-pegal, mata kering, gejala flu dan depresi,” jelas Rana Yusuf Nasir, Director of Rating and Technology Green Building Council Indonesia (GBCI).

Penggunaan energi dalam bangunan secara berlebihan menjadi salah satu faktor dominan penyumbang emisi CO2, sebesar 24%-33% dari keseluruhan emisi. Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan European Commission (2008), bangunan gedung mengonsumsi sekitar 40% energi primer dunia dan relatif lebih tinggi dibandingkan transportasi (30%) dan industri (20%).

Penelitian United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa perkotaan hanya mengambil lahan di dunia sekitar 2%, tapi mengonsumsi 75% energi di seluruh dunia, dan sektor bangunan ini menghabiskan sekitar 40% energi, 30% energi mineral, dan 20% energi air. Menurut standar GBCI, gedung yang ramah lingkungan idealnya berhasil mereduksi penggunaan air dan energi sekitar 20 hingga 30 persen.

Green Building = Mahal?

Penerapan konsep bangunan hijau ternyata bukan hanya menguntungkan lingkungan, tetapi juga mendatangkan manfaat secara ekonomi. Toni Ede dari Kingspan dalam forum GBC Indonesia bertema “Building Efficiency & Healthy Building” (Jakarta Design Center, Juni 2014), menjelaskan bahwa pemilihan dan penempatan material yang tepat selain memberikan dampak signifikan bagi kesehatan penghuni, juga keuntungan bila dibandingkan dengan bangunan biasa, di antaranya menurunnya biaya operasional dan meningkatnya tingkat produktivitas karyawan.

“Sebenarnya tidak semahal itu untuk mengubah gedung menjadi ramah lingkungan. Berdasarkan perhitungan kami peningkatan biaya perawatan gedung hanya akan meningkat sekitar 7 hingga 8 persen,” ungkap Pandita, Kepala Dinas Pengawasan dan Penertiban DKI Jakarta (2012). Hal ini ia komparasikan dengan kenaikan harga air dan listrik.

Laporan menarik juga datang dari U.S. General Services Administration. Pada 2009 mereka menemukan bahwa pada 12 bangunan yang dirancang dengan memperhitungkan GB, membutuhkan biaya operasional yang lebih sedikit dan memiliki performa energi yang sangat baik. Selain itu, penghuni lebih puas dengan keseluruhan bangunan bila dibandingkan dengan bangunan komersial biasa.

Green Building di Indonesia

Pernyataan Green Building Council Indonesia (GBCI) cukup mengejutkan, bahwa ternyata hanya sedikit bangunan di Indonesia yang tergolong sebagai bangunan ramah lingkungan. Sangat jauh bila dibandingkan dengan Singapura, yang terdapat belasan ribu bangunan yang tersertifikasi bangunan hijau.

Kesadaran hijau di Indonesia memang belum menggembirakan, namun berita baik disampaikan oleh Autif Sayyed dari International Finance Corporation (IFC), bahwa konsep penerapan bangunan hijau telah dibakukan dalam Peraturan Gubernur (PerGub) no.38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau. Terdapat 38 kriteria di dalam peraturan yang bersifat wajib tersebut yang kemudian menjadi prasyarat untuk mendapatkan IMB dan memperpanjang SLF.

Tahun 2013 Pemprov DKI Jakarta mulai mewajibkan setiap pemilik gedung-gedung tinggi di ibukota untuk mengikuti peraturan ramah lingkungan. Pemprov tidak akan mengeluarkan izin pembangunan gedung baru dan juga tidak memberikan sertifikat ramah lingkungan, bagi gedung yang gagal memenuhi regulasi ini.

Namun, peraturan ini hanya dikenakan pada bangunan-bangunan dalam ketentuan tertentu. Sekolah dan lembaga pendidikan dengan luas 10.000 meter persegi atau lebih, hotel dan pusat kesehatan dengan luas lebih dari 20.000 meter persegi, pusat perbelanjaan, kompleks apartemen, dan perkantoran lebih dari 50.000 meter persegi.

Ada lima kategori yang harus dipenuhi pemilik gedung untuk memenuhi kriteria ramah lingkungan:

  • Manajemen Bangunan. Untuk bangunan baru, dimulai sejak masa pembangunan konstruksi. Bagi bangunan lama, diberlakukan dalam operasional gedung sehari-hari.
  • Efisiensi Energi. Fokus menekan konsumsi energi dengan memaksimalkan pencahayaan alami.
  • Konservasi Air. Harus menerapkan penggunaan air yang efisien, daur ulang air, dan memiliki penyimpan air hujan.
  • Kualitas Udara. Termasuk di dalamnya penggunaan ventlasi dan filter udara yang baik.
  • Kegunaan Lokasi (site usage).

Jika kita mengacu pada Greenship sebagai sebuah sistem rating, maka ada enam aspek yang yang dicakupnya:

  • Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD)
  • Efisiensi Energi & Refrigeran (Energy Efficiency & Refrigerant/EER)
  • Konservasi Air (Water Conservation/WAC)
  • Sumber & Siklus Material (Material Resources & Cycle/MRC)
  • Kualitas Udara & Kenyamanan Udara (Indoor Air Health & Comfort/IHC)
  • Manajemen Lingkungan Bangunan (Building & Enviroment Management)

Green Building dan Rumah Kita

Gagal paham terakhir yang perlu kita benahi menyangkut konteks atau cakupan jangkauan GB. Urusan GB ternyata bukan hanya urusan para pebisnis atau pemilik uang yang mendirikan gedung-gedung besar. Melainkan juga urusan kita sebagai pemilik atau bagian dari penghuni rumah tinggal.

Rumah juga adalah tempat hunian, karena itu konsep rumah ramah lingkungan juga harus memperhatikan soal-soal keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya. Tidak ingin kalah dari rating Greenship, kita perlu tepat dalam penggunaan lahan, efisien dan efektif dalam penggunaan energi, bijak dalam mengkonsumsi air, cerdik dalam pemilihan peralatan penunjang kehidupan sehari-hari, mengatur sirkulasi udara dengan pas, dan mengelola lingkungan rumah dengan baik. Hasilnya bukan saja kita akan bangga menyandang “predikat” penghuni Green Building,  tapi juga mendapat bonus hadirnyahome sweet home.

Selain itu, kebiasaan-kebiasaan positif harus terus dan tak bosan-bosan dibangun oleh seluruh penghuni rumah, misalnya kebiasaan mematikan lampu bila tidak digunakan, tidak boros air dan mengunci keran dengan baik, mengatur tingkat suhu yang tidak berlebihan dan mempersingkat waktu penggunaan Air Conditioner (AC).

Sampai di sini kita belajar bahwa kesadaran hijau tidaklah menganut paham skala besar atau kecil. Dan, kesadaran hijau harus menjadi gerakan yang dimulai dari diri kita, dalam kehidupan keseharian dan kebiasaan sehari-hari. Ia tidak harus tampak gagah, karena yang terpenting adalah diterapkan secara konsisten. Iya, kan? Salam hijau!

#Jogjahijau #KonsumsiHijau #Don’t(just)Recycle!ThinkFirst #GreenBuilding #BangunanHijau

Ditulis oleh : @angtekkhun