Vanila Serui: Harumnya siap menyebar ke dunia
Vanila Serui: Harumnya siap menyebar ke dunia
Vanila Serui: Harumnya siap menyebar ke dunia
Vanila Serui: Harumnya Siap Menyebar ke Dunia

Aroma vanila memang menggoda. Apakah datang dari aroma cake yang baru dikeluarkan dari oven, harum parfum yang tercium samar dari tubuh seseorang atau aroma therapy yang menjadikan ruangan semerbak menyenangkan. Vanila, atau di Indonesia kadang disebut vanili, sudah jadi salah satu pilihan rasa favorit banyak orang.

Meskipun tanaman vanilla, bukan asli Indonesia, FAO mencatat Indonesia sebagai penghasil vanila terbesar di dunia. Bahkan wilayah Serui Papua kini diakui sebagai penghasil vanilla kualitas A di dunia.    

! Vanilla “ditemukan” oleh Hernan Cortes, penjelajah Spanyol yang mendarat di Meksiko.  Namanya pun berasal dari bahasa Spanyol “vainilla” yang berarti polong kecil.  Dibawa ke Eropa pada tahun 1520-an dan kemudian menjadi tanaman rempah nomor dua termahal didunia setelah saffron (rempah pemberi warna kuning dari kelopak bunga).  Tanaman vanila merupakan anggota keluarga anggrek.

!Sebaran tanaman vanilla semakin meluas di dunia sejak Edmond Albius, bocah pekerja anak berusia 12 tahun menemukan cara penyerbukan dengan tangan, setelah sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh  sejenis lebah lokal Meksiko: lebah Melipona

Vanila Serui

Pulau Serui, di Papua Barat dengan hawa yang panas dan lembab cocok untuk mengembangkan Vanila yang dapat tumbuh baik hingga ketinggian 1.750 meter. Kondisi lingkungan yang masih terjaga keasliannya,  dikombinasi dengan keinginan para petani Serui, pas untuk menanam vanilla secara organik. Pada 2008 Oxfam memfasilitasi petani vanilla  Serui untuk dapat menembus pasar vanilla eksport  melalui program small enterprise.

Program dimulai oleh para ketua adat dari 7 komunitas yang sudah lebih dahulu menanam vanilla dengan memperkenalkan cara bercocok tanam vanilla kepada 11 orang ketua kelompok petani. Dimulai dengan membuat lahan contoh (demplot), sebagai tempat bagi pelatihan bagi petani untuk menanam dan merawat vanilla, sebelum mereka menanam di lahan masing-masing.

Tahun berlalu, semakin banyak yang bergabung.  Setelah tiga tahun, ada 200 petani yang tekun merawat tanaman vanilla jenis V. planifolia, atau Bourbon vanilla yang dikenal juga sebagai vanilla Madagaskar.  Kemampuan teknis para petani ini diasah dengan berbagai platihan dari banyak pihak, diantaranya dari pemerintah lokal, juga Kementrian kehutanan. Harga vanilla Indonesia relatif stabil. Di jayapura, vanilla kering sempat mencapai 400 ribu rupaiah per kg (2007).     

Untuk membuka akses, pada 2010, Oxfam memfasilitasi pembentukan koperasi yang beranggotakan 200 petani vanilla. Melalui Pacomen (Papua Commodity marketing Enterprise) yang  sebelumnya berbisnis kakao  upaya untuk membantu pemasaran diperkuat. Selain tempat petani menjual panen vanilla, koperasi juga bertugas untuk menjaga kualitas dengan mensortir vanilla, dan mengidentifikasi pasar untuk menjual ke berbagai jenis pasar di dalam dan luar Papua.

Selain berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat Serui, penanam vanilla organik memberi ruang bagai para perempuan untuk terlibat aktif. Sekitar 60% penaman vanilla dan juga anggota dari Pacomen serta terlibat aktif sebagai dewan pengawas di Pacomen.    

Meskipun menghasilkan vanilla grade A, kualitas tertinggi, vanilla Serui masih harus berjuang agar aromanya bisa dinikmati banyak orang. “Kualitas vanilla serui ini diakui dunia, sayangnya seperti juga produk berkualitas lain yang dihasilkan Papua, akses pasar masih menjadi kendala yang tidak mudah ditembus”. Papar Patricius

Usfomeny, Area Program Manager Papua,Oxfam.

Walau saat ini vanilla Serui masih harus mengambil jalan memutar untuk dapat menembus pasar, (melalui rantai perdagangan lewat Menado, Sulawesi Utara yang sudah lebih dahulu mengembangkan vanilla), dengan kualitas vanilla, semangat para petaninya juga kerjasama para pihak,aroma vanilla Serui dapat tercium di banyak tempat dan produk. (IR)